Untukmu Aksara hatiku

Kepadamu yang memiliki hati, izinkan aku sedikit berbisik dalam aksara ini. Karena lantunannya tidak sekedar dengan tulisan, atau dipandang sekilas cukup melalui bacaan. Sungguh yang dibawa disini tidak lebih tidak kurang benar-benar dipersembahkan melalui perasaan. Karena dirimu begitu berharga..

Selasa, 08 Mei 2012

JAGASTU! - Jaga Semangat Itu

Mengenali Semangat
            
             Semangat adalah sebagai modal. Pemiliknya adalah mereka yang diantaranya bercirikan sabar dalam kepahitan, bertahan meski dalam keluh-kesah, serta berjuang sampai akhir walau sudah diambang batas lelah. Setiap harinya, rasa itu akan selalu menjadi warna yang menggerakkan diri ini dalam menyambut sebuah harapan. Karena tak jarang takdir jelas mengatakan, yang menjadikan jauh tidaknya jarak kita pada sebuah keinginan dilihat dari seberapa besar semangat yang kita siapkan untuk mendapatkan.

              Berusaha dalam hidup merupakan bagian dari terlaksananya semangat dalam diri kita. Ukurannya bisa diketahui dalam proses perjalanan, karena naik turunnya semangat itu dilihat dari bagaimana kita memaknai besarnya harga dari sebuah tujuan. Demikian sama juga halnya dengan amanah, terkadang yang kita butuhkan adalah sedikit membuat harganya tampak lebih besar diakhir.

              Karena ketika semangat itu terus dijaga, bagaikan hati ini tak ada habisnya bertasbih atas sebuah do’a.

Datangnya Sebuah Amanah

              Tidak ada didunia ini orang yang ingin mengalami kesusahan, keseluruhan dari mereka pasti menginginkan kebahagiaan dan kemudahan. Namun sayangnya tidak bisa demikian, sebab inilah hidup. Sesuatu yang sedang mengajarkan kita atas sebuah hal untuk dijadikan sebagai bekal.

              Amanah yang datang itu tidak hanya hadir sebagai berkah, namun ia juga diikuti dengan beragam masalah. Ini yang menjadi dasar, karena itulah beramanah itu selalu membuat kita jadi lebih cepat dewasa dari pada biasanya. Urusan mampu tidaknya, biar Allah yang menguatkan kita.

              Menjalankan amanah adalah tanda dari kehidupan, meskipun bukan dalam konteks pekerjaan ataupun tugas, tapi minimal dia menjalankan amanahnya sebagai seorang manusia. Harta yang senantiasa perlu dijaga salah satunya adalah kepemilikan kita terhadap semangat. Yang bisa jadi semua orang memilikinya tapi tidak semua bisa bersedekah atasnya. Karena itu bersyukurlah ketika minimal dalam setiap hari selalu ada semangat yang bisa kita bagi, dan benar adanya seorang penyeru kebaikan itu harus memiliki kapasitas bersemangat yang lebih besar dari pada umumnya, agar dia bisa menularkannya pada orang-orang disekitarnya.

Terjatuh di Perjalanan

              Adakalanya kita menyadari betapa semangat itu tiba-tiba pergi. Rasa jenuh, lelah dan mungkin sakit hati menghinggapi. Ini yang kemudian disebut romantika, sebab tak jarang dalam fase kehidupan, kita akan menemui dimana diri ini akan tiba saatnya menjadi begitu melankolis. Itu merupakan kewajaran, tapi yang menjadi catatan adalah jangan sampai pikiran ini berujung pada keadaan yang begitu mendramalisir keadaan.

              Semangat yang tinggi ketika dibenturkan dengan realitas yang dipandang dengan tidak tepat maka akan terkikis sedikit demi sedikit sampai tak bersisa. Inilah bahayanya kelewat realistis, karena hal ini begitu dekat dengan rasa pesimistis. Perasaan ini seolah membuat kita harus bersabar dalam barisan yang tak pernah bergerak.

              Biarkan hidup ini senantiasa bernasyid dengan semangat-semangatnya, mendendangkan kebaikan dan saling bersedekah atas sebuah nasihat. Semangat itu bisa timbul dari luar, tapi tak sedikit pula yang berasal dari dalam sini, dari dalam hati. Maka barang yang siapa yang asalkan hatinya sudah ia betulkan, tidak ada lagi yang ia hadapi kecuali segala sesuatunya tampak lebih dimudahkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar