Mengenali Semangat
Semangat adalah sebagai modal. Pemiliknya adalah mereka yang
diantaranya bercirikan sabar dalam kepahitan, bertahan meski dalam
keluh-kesah, serta berjuang sampai akhir walau sudah diambang batas
lelah. Setiap harinya, rasa itu akan selalu menjadi warna yang
menggerakkan diri ini dalam menyambut sebuah harapan. Karena tak jarang
takdir jelas mengatakan, yang menjadikan jauh tidaknya jarak kita pada
sebuah keinginan dilihat dari seberapa besar semangat yang kita siapkan
untuk mendapatkan.
Berusaha dalam hidup
merupakan bagian dari terlaksananya semangat dalam diri kita. Ukurannya
bisa diketahui dalam proses perjalanan, karena naik turunnya semangat
itu dilihat dari bagaimana kita memaknai besarnya harga dari sebuah
tujuan. Demikian sama juga halnya dengan amanah, terkadang yang kita
butuhkan adalah sedikit membuat harganya tampak lebih besar diakhir.
Karena ketika semangat itu terus dijaga, bagaikan hati ini tak ada habisnya bertasbih atas sebuah do’a.
Datangnya Sebuah Amanah
Tidak ada didunia ini orang yang ingin mengalami kesusahan, keseluruhan
dari mereka pasti menginginkan kebahagiaan dan kemudahan. Namun
sayangnya tidak bisa demikian, sebab inilah hidup. Sesuatu yang sedang
mengajarkan kita atas sebuah hal untuk dijadikan sebagai bekal.
Amanah yang datang itu tidak hanya hadir sebagai berkah, namun ia juga
diikuti dengan beragam masalah. Ini yang menjadi dasar, karena itulah
beramanah itu selalu membuat kita jadi lebih cepat dewasa dari pada
biasanya. Urusan mampu tidaknya, biar Allah yang menguatkan kita.
Menjalankan amanah adalah tanda dari kehidupan, meskipun bukan dalam
konteks pekerjaan ataupun tugas, tapi minimal dia menjalankan amanahnya
sebagai seorang manusia. Harta yang senantiasa perlu dijaga salah
satunya adalah kepemilikan kita terhadap semangat. Yang bisa jadi semua
orang memilikinya tapi tidak semua bisa bersedekah atasnya. Karena itu
bersyukurlah ketika minimal dalam setiap hari selalu ada semangat yang
bisa kita bagi, dan benar adanya seorang penyeru kebaikan itu harus
memiliki kapasitas bersemangat yang lebih besar dari pada umumnya, agar
dia bisa menularkannya pada orang-orang disekitarnya.
Terjatuh di Perjalanan
Adakalanya kita menyadari betapa semangat itu tiba-tiba pergi. Rasa
jenuh, lelah dan mungkin sakit hati menghinggapi. Ini yang kemudian
disebut romantika, sebab tak jarang dalam fase kehidupan, kita akan
menemui dimana diri ini akan tiba saatnya menjadi begitu melankolis. Itu
merupakan kewajaran, tapi yang menjadi catatan adalah jangan sampai
pikiran ini berujung pada keadaan yang begitu mendramalisir keadaan.
Semangat yang tinggi ketika dibenturkan dengan realitas yang dipandang
dengan tidak tepat maka akan terkikis sedikit demi sedikit sampai tak
bersisa. Inilah bahayanya kelewat realistis, karena hal ini begitu dekat
dengan rasa pesimistis. Perasaan ini seolah membuat kita harus bersabar
dalam barisan yang tak pernah bergerak.
Biarkan hidup ini senantiasa bernasyid dengan semangat-semangatnya,
mendendangkan kebaikan dan saling bersedekah atas sebuah nasihat.
Semangat itu bisa timbul dari luar, tapi tak sedikit pula yang berasal
dari dalam sini, dari dalam hati. Maka barang yang siapa yang asalkan
hatinya sudah ia betulkan, tidak ada lagi yang ia hadapi kecuali segala
sesuatunya tampak lebih dimudahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar