SAMPAI MALAM PASTI DIKALAHKAH PAGI
-------------------------------------------------------
Suasana siang hari itu akan bergantung pada bagaimana kita memulai pada paginya. Dan indahnya hari esok itu, bisa kita jumpai begitu lengkap dengan menyimpan harapan pada hari sebelumnya. Harapan itu akan selalu ada, dan yang seperti inilah sebuah peristiwa dalam hidup yang bisa dikatakan sebagai usaha tuk menjemput lebih awal segala sesuatunya.
Naungan hidup akan selalu berorientasi pada 3 hal. Masa lalu, kini, serta waktu yang akan datang. Ada kaitan yang begitu jelas antara 3 moment ini. Meskipun sifatnya bukanlah sekedar ketergantungan, tapi bentuknya lebih tepat sebagai suatu keutuhan. Masa yang lalu akan menjadi ilmu dan cerita, masa kini akan berbentuk rindu dan upaya, dan waktu yang akan datang akan jadi bingkai atas hasil dan warna-warninya.
Saya yakin akan tiba waktunya kita akan menjumpa, periode ini akan terbahasakan lebih mudah dengan berupa sebuah rasa yakin, bahwa masa pribadi yang jahiliah akan selalu dapat berganti menjadi era pribadi yang bersinar begitu indah. Lebih tepatnya, setiap orang memang memiliki masa lalunya, namun akan selau berhak atas kebaikan tuk masa depannya. Sekali lagi kita semua berhak, karena Ini semua adalah tentang perubahan. Hanya saja yang perlu sedikit kita lakukan adalah untuk menjemput perubahan itu.
LINGKAR PEDULI DAN LINGKAR KEMAMPUAN
Manusia itu memiliki dua macam lingkaran didalam dirinya. Lingkar Peduli dan Lingkar Kemampuan. Ketika pertama kali terpilihnya Abu Bakar sebagai Khalifah di Bumi Allah, ia sempat berdalih dengan mengatakan bahwasannya Umarlah yang paling pantas dilihat dari sepak terjangnya. Namun para sahabat memiliki pandangan yang lebih kompleks, salah satu diantaranya adalah tentang lingkar peduli serta lingkar kemampuan yang ada dalam dirinya
Ada sebuah batasan tipis antara tingkat keinginan dan harapan (lingkar peduli) serta tingkat kemampuan dan kendali (lingkar kemampuan). Lahirnya sebuah keinginan ini didasarkan atas tumbuhnya rasa peduli. Dan tujuan dari ungkapan kepedulian ini pada akhirnya harus selalu beriringan dengan apa itu yang disebut dengan lingkar kemampuan. Kalau saja manusia itu melayang terlampau tinggi pada perluasan lingkar peduli tanpa diiringi ukuran lingkar kemampuannya, maka dia hanya akan terjatuh pada lembah angan-angan tak berkesudahan. Sebaliknya jikalau seseorang itu tenggelam lebih dalam pada meluaskan lingkar kemampuan tanpa diiringi dengan bertambahnya batasan lingkar kepedulian, maka dia hanya akan tenggelam pada kekecewaan atas raihan-raihan yang begitu banyak ia sia-siakan. Porsi yang benar adalah menentukan ukuran yang tidak sekedar sama rata, tapi menentukannya dengan sesuai kebutuhannya. Bisa jadi yang satu lebih tinggi, atau mungkin yang lain lebih tepat untuk jadi yang paling atas.
Mengapa demikian, pergulatan antara lingkar peduli dan lingkar kemampuan ini akan digarisi oleh sebuah ketentuan yang disebut dengan realita. Selamanya kita tidak bisa membunuh akan segala kemungkinan dari realita, tapi kita mampu untuk berjalan beriringan bersamanya, menemukan jalan didepan bersamanya, dan membentuk impian itu secara strategis juga bersamanya. Karena terlewat realistis itu sangatlah dekat dengan rasa pesimistis. Sehingga tak salah jika kita mencoba tuk sedikit bertoleransi dengan apa itu realita, namun tetap dalam naungan selalu optimis menuju tujuan yang idealnya.
BERHARAP, DAN PERUBAHAN ITU AKAN SELALU ADA
Yang membedakan antara orang yang beriman dengan tidak, salah satunya adalah dengan masih adanya harapan didalam dadanya. Putus asa itu manusiawi, namun jangan sampai kita kehilangan asa itu. Sambunglah dan temukan jalannya untuk kemudian terus berlari kembali. bukan sebagai mentari yang dikalahkan malam, tapi malam yang dikalahkan pagi. lebih terang, dan memang menggantikan gelap yang lalu, tak bersisa.
Hari-hari indah esok akan selalu siap tuk dilamar, pertanyaanya adalah seberapa baik kita menyiapkan saat ini untuk dijadikan sebagai mahar.
-------------------------------------------------------
Suasana siang hari itu akan bergantung pada bagaimana kita memulai pada paginya. Dan indahnya hari esok itu, bisa kita jumpai begitu lengkap dengan menyimpan harapan pada hari sebelumnya. Harapan itu akan selalu ada, dan yang seperti inilah sebuah peristiwa dalam hidup yang bisa dikatakan sebagai usaha tuk menjemput lebih awal segala sesuatunya.
Naungan hidup akan selalu berorientasi pada 3 hal. Masa lalu, kini, serta waktu yang akan datang. Ada kaitan yang begitu jelas antara 3 moment ini. Meskipun sifatnya bukanlah sekedar ketergantungan, tapi bentuknya lebih tepat sebagai suatu keutuhan. Masa yang lalu akan menjadi ilmu dan cerita, masa kini akan berbentuk rindu dan upaya, dan waktu yang akan datang akan jadi bingkai atas hasil dan warna-warninya.
Saya yakin akan tiba waktunya kita akan menjumpa, periode ini akan terbahasakan lebih mudah dengan berupa sebuah rasa yakin, bahwa masa pribadi yang jahiliah akan selalu dapat berganti menjadi era pribadi yang bersinar begitu indah. Lebih tepatnya, setiap orang memang memiliki masa lalunya, namun akan selau berhak atas kebaikan tuk masa depannya. Sekali lagi kita semua berhak, karena Ini semua adalah tentang perubahan. Hanya saja yang perlu sedikit kita lakukan adalah untuk menjemput perubahan itu.
LINGKAR PEDULI DAN LINGKAR KEMAMPUAN
Manusia itu memiliki dua macam lingkaran didalam dirinya. Lingkar Peduli dan Lingkar Kemampuan. Ketika pertama kali terpilihnya Abu Bakar sebagai Khalifah di Bumi Allah, ia sempat berdalih dengan mengatakan bahwasannya Umarlah yang paling pantas dilihat dari sepak terjangnya. Namun para sahabat memiliki pandangan yang lebih kompleks, salah satu diantaranya adalah tentang lingkar peduli serta lingkar kemampuan yang ada dalam dirinya
Ada sebuah batasan tipis antara tingkat keinginan dan harapan (lingkar peduli) serta tingkat kemampuan dan kendali (lingkar kemampuan). Lahirnya sebuah keinginan ini didasarkan atas tumbuhnya rasa peduli. Dan tujuan dari ungkapan kepedulian ini pada akhirnya harus selalu beriringan dengan apa itu yang disebut dengan lingkar kemampuan. Kalau saja manusia itu melayang terlampau tinggi pada perluasan lingkar peduli tanpa diiringi ukuran lingkar kemampuannya, maka dia hanya akan terjatuh pada lembah angan-angan tak berkesudahan. Sebaliknya jikalau seseorang itu tenggelam lebih dalam pada meluaskan lingkar kemampuan tanpa diiringi dengan bertambahnya batasan lingkar kepedulian, maka dia hanya akan tenggelam pada kekecewaan atas raihan-raihan yang begitu banyak ia sia-siakan. Porsi yang benar adalah menentukan ukuran yang tidak sekedar sama rata, tapi menentukannya dengan sesuai kebutuhannya. Bisa jadi yang satu lebih tinggi, atau mungkin yang lain lebih tepat untuk jadi yang paling atas.
Mengapa demikian, pergulatan antara lingkar peduli dan lingkar kemampuan ini akan digarisi oleh sebuah ketentuan yang disebut dengan realita. Selamanya kita tidak bisa membunuh akan segala kemungkinan dari realita, tapi kita mampu untuk berjalan beriringan bersamanya, menemukan jalan didepan bersamanya, dan membentuk impian itu secara strategis juga bersamanya. Karena terlewat realistis itu sangatlah dekat dengan rasa pesimistis. Sehingga tak salah jika kita mencoba tuk sedikit bertoleransi dengan apa itu realita, namun tetap dalam naungan selalu optimis menuju tujuan yang idealnya.
BERHARAP, DAN PERUBAHAN ITU AKAN SELALU ADA
Yang membedakan antara orang yang beriman dengan tidak, salah satunya adalah dengan masih adanya harapan didalam dadanya. Putus asa itu manusiawi, namun jangan sampai kita kehilangan asa itu. Sambunglah dan temukan jalannya untuk kemudian terus berlari kembali. bukan sebagai mentari yang dikalahkan malam, tapi malam yang dikalahkan pagi. lebih terang, dan memang menggantikan gelap yang lalu, tak bersisa.
Hari-hari indah esok akan selalu siap tuk dilamar, pertanyaanya adalah seberapa baik kita menyiapkan saat ini untuk dijadikan sebagai mahar.
Bumi Allah
Arief Budi
07-02-2011
Untuk Semua